All contents, unless mentioned, are written by me.

Pertama kali saya melihat poster untuk “Triangle,” saya skeptis. Lalu saya melihat trailer-nya. Pada dasarnya, saya selalu beranggapan bahwa trailer merusak ekspektasi dari sebuah film. Tapi, ada satu adegan yang membuat saya tertarik untuk menontonnya. Pula, trailer-nya sepertinya menunjukkan bahwa ada unsur manipulasi waktu di dalamnya, dan saya hampir selalu punya sisi lemah untuk hal-hal yang berbau manipulasi waktu. Filmnya cukup menghibur, bahkan, sampai batas tertentu, menarik, meskipun kesimpulan yang coba ditawarkan pada akhirnya hanya datar. Ditambah pula dengan kualitas akting yang sama sekali tidak membantu.

Jadi, ceritanya, sekelompok orang, berwisata dengan kapal pribadi ke laut lepas, dihajar badai, dan akhirnya ‘diselamatkan’ oleh sebuah kapal pesiar. Tentu saja, kapal pesiarnya tidak seperti kapal pesiar pada umumnya. Jess (Melissa George), yang merupakan pusat dari kemalangan di film ini, mulai melihat sesuatu yang tidak semestinya ia lihat dan mulai mengalami lingkar waktu. Semakin film berlangsung, Jess melihat kejadian yang sama, berulang, melalui perspektif yang berbeda dan sedikit demi sedikit memberikan dia (dan kita, penonton) pengertian terhadap apa yang sesungguhnya terjadi.

Kalau berbicara mengenai film horor (apakah film ini bisa digolongkan sebagai film horor?), saya sangat teramat tidak menyukai trik-trik murahan yang sering dipakai untuk memancing perasaan takut. Apa yang saya maksud dengan trik-trik murahan ini adalah, adegan muncul tiba-tiba, atau efek suara yang tiba-tiba yang memiliki satu-satunya tujuan untuk mengejutkan penonton. Untungnya, film ini hanya memiliki dosis minimal untuk trik-trik tersebut (kalau tidak bisa dibilang tidak ada). Film ini mementingkan potongan teka-teki yang diberikan secara bertahap dan dalam hal ini, film ini memberikan eksekusi yang cukup bagus dan sanggup untuk menjaga supaya tetap menarik. Namun, pada akhirnya, ketika teka-teki telah terpecahkan, hasil akhir dan pengertian dari teka-teki tersebut, sedikit mengecewakan.

Kekurangan yang paling terlihat dari film ini adalah efek visual. Terlihat sekali efek visualnya dikerjakan dengan anggaran yang terbatas. Tapi, karena visual bukanlah sajian utama dari film ini, kekurangannya bisa dengan mudah diacuhkan. Film ini juga tidak begitu berdarah-darah, yang bergantung pada preferensi anda, bisa jadi hal yang baik atau sebaliknya. Saya pribadi tidak begitu menyukai adegan-adegan sadis yang berlebihan jadi hal ini buat saya adalah hal yang bisa saya terima dengan baik. Hal baiknya, ada satu adegan, sama persis dengan adegan di trailer yang membuat saya tertarik dengan film ini, ketika Jess berjalan menuju satu sudut kapal pesiar yang tersembunyi, dan melihat … yah, burung camar, dan hal lainnya. Dalam konteks cerita, adegan ini ditempatkan sedemikian rupa sehingga ketika anda, melalui Jess, melihatnya, ada fakta yang ikut bersamanya dan membawa kesadaran terhadap kejadian yang menimpa Jess dan kawan-kawannya. Cukup untuk memberikan momen ‘wow’ dan adegan ini adalah momen favorit saya dari film ini.

Sebagai penutup, dan ini mungkin bukan lagi hal yang aneh untuk film-film serupa. Kecuali satu adegan dari Mellisa George pada beberapa adegan di penghujung film, kualitas akting dari film ini secara keseluruhan tidak istimewa. Bahkan, ada saat di mana saya merasa tidak nyaman karenanya. Satu-satunya akting yang bisa disebut akting tentu saja datang dari Melissa George, yang karakternya memang diberikan atensi yang penuh. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kecuali untuk satu adegan pada momen-momen terakhir, belahan dadanya mungkin mendapat perhatian yang lebih banyak daripada kualitas aktingnya.

Rating: **1/2 / **** – Seperti teka-teki. Cukup menarik untuk mengetahui kepingan mana yang cocok untuk bagian yang mana. Namun, ketika sudah terpecahkan, hasilnya ternyata tidak sesuai dengah yang diharapkan. Cukup menarik, sih.